3 Hal Ini Membuat Tim Tidak Berjalan Efektif

hierarchy-261985_1280

Menjalankan sebuah project membutuhkan sebuah tim yang berkinerja tinggi agar berjalan dengan sukses. Kesuksesan tersebut dimulai pada pemilihan anggota tim itu sendiri.

Pemilihan tim menjadi kewenangan ketua tim untuk memilih siapa-siapa saja untuk bergabung. Pengujian kepiawaian ketua tim dimulai di sini. Sebagai catatan, di beberapa organisasi anggota tim tidak dipilih oleh ketua tim, tapi oleh atasannya.

Dalam sajian tulisan blog kali ini, ada 3 hal yang harus dihindari bila ketua tim diberi kewenangan dalam merekrut anggota tim. Bila hal ini dilakukan maka tim tidak akan berjalan efektif.

Mari kita simak satu per satu.

#1 Merekrut Anggota Tim Lama. Menjadi godaan bagi ketua tim untuk memanggil anggota tim lama untuk mengerjakan project yang akan datang. Alasannya sederhana, karena anggota tim yang lama sudah ada chemistry-nya sehingga harapannya project bisa selesai lebih cepat.

Tapi. Ada tapinya. Apakah latar belakang atau kompetensi anggota lama sesuai dengan kebutuhan project saat ini? Kalau ya, tidak masalah. Bila tidak, maka ketua tim akan menemui kendala.

Selain itu, hal ini kurang baik bagi organisasi secara keseluruhan dikarenakan ada karyawan lain yang selalu menjadi anggota tim dalam sebuah project namun di sisi lain ada karyawan yang tidak pernah ikut sama sekali. Tidak ada proses pembelajaran dalam organisasi bila anggota tim orangnya itu-itu saja.

Bila ketua tim, tetap ingin merekrut anggota lama, usahakan dicampur dengan anggota tim baru yang kompetensinya sesuai dengan kebutuhan project. Chemistry akan terjadi seiring berlalunya waktu.

#2 Mempunyai Latar Belakang Sama. Ketua Tim merekrut anggota dari personil yang sudah dia kenal dan mempunyai kemampuan berkerja dalam tim. Namun terjadi masalah, ketika anggota tim yang dikumpulkan tersebut, ternyata terdapat dua orang atau lebih yang berlatar belakang sama, misalnya pendidikan, divisi atau kompetensinya.

Alih-alih ingin mempercepat penyelesaian pekerjaan, permasalahan timbul ketika project dibagi-bagi menjadi aktivitas yang lebih kecil. Terdapat aktivitas dengan beban yang sama dikerjakan oleh satu orang dan ada yang dikerjakan dua orang, menyebabkan kinerja tim tidak efektif. Lain halnya bila satu aktivitas mempunyai beban yang berbeda dan memang memerlukan dua orang yang berlatang belakang sama.

Selain itu, bila dua orang anggota tim berlatar belakang sama potensi konflik kemungkinan muncul. Masing-masing individu berusaha menonjolkan kemampuannya masing-masing dengan harapan mendapat respek dari anggota tim lainnya. Seharusnya, keberadaan masing-masing individu tim adalah saling mengisi, bukan saling menggantikan, karena tiap individu mempunyai perannya masing-masing di dalam tim.

Pengalaman penulis saat mendapat materi tentang team leadership, diajarkan bagaimana peserta dipersilahkan memilih peserta lain sebagai anggota tim. Selanjutnya tiap-tiap tim menghitung jumlah perbedaan diantara anggota tim. Setiap ada perbedaan anggota tim misalnya usia, diberi poin 1. Demikian seterusnya, semua perbedaan seperti latar belakang, pendidikan, masa kerja dihitung poinnya. Disini disampaikan bahwa salah satu keefektifan tim diantaranya adalah adanya perbedaan-perbedaan dalam anggota tim.

#3 Beranggotakan Karyawan Senior. Bila berpikir secara sempit, agar pekerjaan project cepat tuntas, maka dipilihlah karyawan-karyawan senior. Hal ini kurang tepat. Biasanya, load pekerjaan karyawan senior di luar tim besar juga, sehingga kadangkala pekerjaan di project sedikit terhambat.

Dalam mencapai tujuan proyek, seyogyanya yang menjadi anggota tim adalah yang kompeten di bidangnya masing-masing, tanpa melihat masa kerjanya.

Seperti dalam poin 1, bila anggota tim direkrut hanya dari karyawan senior, maka proses pembelajaran dalam organisasi tidak akan tercapai. Tentunya harapan ke depannya adalah, yang senior akan menjadi ketua tim bila ada kesempatan, dan yang junior yang selama ini bergabung akan menempati peran senior yang ditinggalkannya di anggota tim.

Dengan adanya kombinasi anggota tim yang senior dan junior, maka ketua tim harus mampu mensinergikan keduanya. Konflik jelas akan muncul, dimana senior akan lebih mendominasi dibanding junior dalam hal menyampaikan pendapat. Bahkan diantara karyawan senior itu sendiri. Hal ini perlu dihindari. Tugas ketua tim menyampaikan dan selalu mengingatkan bahwa ini adalah tugas sebuah tim, bukan individu, dalam mencapai tujuan project.

Demikian 3 kesalahan yang perlu dihindari ketika akan merekrut anggota tim oleh ketua tim. Rekrutan yang kurang tepat akan menjadikan tim tidak berjalan dengan efektif sehingga tujuan project tidak tercapai.

Semoga bermanfaat.

Screenshot_2017-12-03-16-28-58-1

Berlangganan dan Download Ebook Gratis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *