Alarm dan Dua Tipe Karyawan

alarm-clock-3615827_1920

Kring! Kring! Kring!

Suara itu selalu mengawali hari saya. Bukan nada dering telpon, tapi nada dering alarm. Alarm yang nada deringnya seperti telpon.

Kalau saya memilih nada dering berupa lagu, malah tambah nyenyak nanti tidurnya, ha-ha!

Walaupun sudah menjadi kebiasaan saya bangun pagi, namun alarm masih saya gunakan sebagai alat bantu.

Saya manfaatkan dua handphone saya untuk sama-sama membunyikan alarm.

Saya pasang dengan selang waktu 5 menit. Jadi pas saat saya sedang lelah-lelahnya dan sulit beranjak dari tempat tidur, 2 alarm tersebut dijamin bisa bikin saya terjaga.

Kalau alarm pertama belum bisa membangunkan saya. Masih ada satu alarm lagi yang siap mengguncang tidur lelap saya.

Ada yang unik diantara kedua alarm ini. Alarm pertama bila saya pasang jam 4, maka ketika waktunya tiba, dia berbunyi sekitar 1 menit setelah itu tidak berbunyi lagi.

Berbeda dengan alarm yang kedua. Dengan waktu yang sama, ketika waktu berbunyinya habis, dia akan mengulang terus sampai saya mematikannya.

Alarm pertama bertugas berbunyi pada waktunya. Entah si empunya terbangun atau tidak, yang penting dia berbunyi pada waktunya. Setelah itu urusan selesai.

Begitu Pikirnya.

Sedangkan alarm kedua selain bertugas berbunyi pada waktunya, juga memastikan bahwa si empu ini bangun dari tidurnya.

Dia tidak akan berhenti berbunyi sebelum alarmnya dimatikan sebagai tanda bahwa yang punya sudah terbangun.

Adakah hubungan dua tipe alarm ini dengan tipe karyawan dalam sebuah perusahaan.

Yuk, simak contoh berikut.

Sebut saja Ade dan Edi (bukan nama sebenarnya). Keduanya bertugas melakukan input data penjualan yang kemudian diserahkan kepada atasan mereka.

Setiap hari, Adek melakukan input rekap data penjualan dari beberapa unit usaha. Setelah selesai, dia kirim file monitoring tersebut ke atasannya.

Suatu saat, atasannya terkejut membaca monitoring penjualan tersebut. Salah satu unit mengalami penurunan penjualan yang cukup drastis. Dia sudah siap mengangkat telepon untuk menghubungi manajer unit tersebut, namun dia urungkan niatnya.

Setelah dicermati, sang atasan ini melihat ada data yang janggal dari monitoring yang dikerjakan oleh Ade. Saat Ade dipanggil, dia pun terlihat bingung dengan data tersebut. Ade pun menghubungi unit tersebut, tidak ada data yang salah.

Lalu sang atasan meminta Adek melakukan cross check. Ternyata ada link yang salah. Adek menggunakan rumus data bulan lalu.yang sebenarnya tidak cocok dipakai pada bulan berjalan.

Untung saja, sang atasan menyadari kesalahan data.

Ade bagaikan alarm tipe pertama. Ade hanya melaksanakan tugas input data, lalu cetak dan serahkan ke atasan. Ade tidak melakukan cross check apakah data input dari unit. Juga tidak melakukan cross check atas data yang diinput.

Lalu bagaimana dengan Edi?

hosting murah

Tugasnya sama seperti Ade, namun Edi yang sudah pengalaman menggunakan tacit knowledge-nya ketika ada data dari unit yang terlihat janggal.

Edi langsung konfirmasi ke unit atas data yang janggal tersebut. Bila memang data dari unit setelah dikonfirmasi benar adanya, maka dia pun membuat catatan yang diperuntukan untuk atasannya.

Setelah itu, Edi melakukan input data. Sebelum dikirim ke atasannya, Edi melakukan cross check terhadap data yang dibuatnya. Memastikan data hariannya yang biasanya ter-link sudah benar.

Selanjutnya setelah file monitoring dikirim ke atasannya, Edi memyempatkan diri untuk bertatap muka langsung. Edi akan memberikan penjelasan atas catatan yang dibuatnya.

Edi pun siap memberikan data historis kepada atasannya ketika catatan yang dibuatnya belum jelas bagi atasannya.

Edi menyadari pengambilan keputusan akibat monitoring yang salah akan betakibat fatal.

Edi bagaikan alarm tipe kedua.

Jika pembaca sepakat dengan saya, sebagai seorang atasan pasti menginginkan tipe karyawan seperti Edi.

Mungkin saja Edi sudah membaca tips jadi bawahan yang baik.

Secara organisasi, bila menginginkan tipe karyawan seperti Edi, perusahaan perlu membuat job des yang mengatur tugas-tugas yang diperlukan oleh manajemen.

Hal ini akan menghindari kesalahan-kesalahan manajamen dalam pengambilan keputusan yang disebabkan oleh karyawan yang tidak cakap melaksanakan tugasnya.

Agar berimbang, sebagai atasan pun harus mengetahui dan menghindari kekeliruan yang dilakukan oleh manajer.

Jadi anda mau pasang alarm tipe Adi atau Edi?

Semoga bermanfaat.

Gambar: pixabay