Bagaimana Cara Mengubah Kebiasaan

IMG-20170920-WA0033-1

Judul : The Power of Habit
Penulis : Charles Duhigg
Penerbit : KPG
ISBN : 978-979-91-0565-3
Tebal : 369 halaman
Tahun Terbit : 2012
Cetakan : ke 8 Juli 2016
Genre : Non Fiksi

Tulisan ini merupakan kontribusi dari guest blogger Kang Wawan.

Untuk edisi reviu buku kali ini, blog kesayangan Anda akan mengulas secara ringan dan berbobot tentang buku The Power of Habit.

Reviu buku kali ini adalah buku ketiga, setelah reviu buku Self Driving dan Who Moved My Cheese.

Sekedar catatan bagi pembaca semua, buku-buku yang saya reviu di blog merupakan koleksi perpustakaan pribadi. Saya membacanya dan kemudian saya share reviunya.

O ya, buku ini adalah hadiah dari keluarga kecil saya di momen spesial tahun lalu.

Mari kita simak reviu buku tentang kekuatan kebiasaan.

Buku setebal lebih dari 300 halaman merupakan karya Charles Duhigg yang merupakan reporter New York Times dan telah mendapatkan berbagai penghargaan atas karyanya.

Di awal, buku ini menyampaikan bahwa kebiasaan tercipta akibat fungsi otak yang bertujuan untuk menghemat upaya.

Contoh sederhananya adalah ketika kita melakukan liburan dengan mengendarai mobil sendiri. Otak kita telah memberikan kebiasaan dalam menyetir, sehingga setiap kali liburan kita tidak perlu untuk belajar menyetir kembali.

Penggambaran kebiasaan secara sederhana juga digambarkan melalui seekor tikus percobaan. Tikus ini disimpan di ruangan tertutup.

Setiap kali terdengar bunyi klik, itu adalah tanda pintu terbuka yang memberikan tikus jalan keluar, tikus mulai menyusuri jalan.

Setiap kali tikus keluar dan berputar-putar dalam labirinnya, tikus akan mendapatkan ganjaran, sebatang coklat.

Awalnya tikus ini mencoba berbagai jalan, sampai dia mendapatkan jalan tercepat mendapatkan coklat.

Demikianlah sebuah kebiasaan bekerja, untuk menghemat upaya.

Duhigg, menjelaskan pola lingkar kebiasaan: tanda – rutinitas – ganjaran.

Dalam konteks tikus percobaan: tanda yaitu bunyi klik, rutinitas yaitu pencarian jalan, dan ganjaran yaitu tikus mendapatkan coklat.

Sepanjang pembahasan buku, lingkar kebiasaan inilah yang membantu pembaca untuk memahami bagaimana sebuah kebiasaan bisa dipetakan untuk kemudian dirubah untuk menjadi lebih baik.

Kebiasaan lama yang ingin diubah, dalam lingkar kebiasaan, hanyalah merubah rutinitas yang baru. Sedangkan tanda dan ganjaran tetap sama.

Contoh-contoh bagaimana sebuah kebiasaan bekerja, diceritakan dengan baik di buku ini dari beberapa hasil pengamatan Duhigg. Pengamatan meliputi bidang medis, pribadi, kehidupan sosial, organisasi bahkan korporasi.

Buku ini menceritakan bagaimana pemetaan sebuah lingkar kebiasaan bisa merubah kebiasaan seorang gadis menggigiti kuku yang dapat dialihkan pada aktivitas lain.

Untuk level korporasi, terlihat bagaimana Paul O’neill CEO Alumunium Company of America (Alcoa) berhasil menjadikan perusahaannya sebagai perusahaan teraman untuk bekerja saat itu.

Kiprahnya adalah merubah pola komunikasi setiap saat ada kejadian kecelakaan kerja. Laporan kejadian dan tindak lanjut yang dilakukan harus dilaporkan kepadanya sesaat setelah kejadian.

Kebiasaan mekanisme laporan ini mendorong komunikasi sampai ke level bawah. Bukan hanya laporan tapi tindak lanjutnya. Kebiasaan pola komunikasi ini pun kemudian dimanfaatkan oleh insan Alcoa untuk bertukar info lainnya. Sehingga dengan sendirinya, komunikasi pola baru ini memberikan nilai tambah.

hosting murah

Selain itu, ada studi kasus lainnya tentang bagaimana Starbucks memberikan pelatihan yang mempersiapkan karyawan untuk menghadapi masa-masa kritis yaitu saat pelanggan mulai marah.

Adalah Travis, seorang manajer yang di usianya baru menginjak 25 tahun sudah memegang 2 cabang, yang menceritakan bagajamana Starbucks memberikan pelatihan pada hari pertama dia mulai bekerja dan pelatihan yang berkelanjutan selama karirnya.

Pelatihan-pelatihan tersebut menumbuhkan lingkar kebiasaan yang membentuk kekuatan tekad (will power). Kekuatan tekad inilah yang menjadikan karyawan Starbucks mampu menghadapi saat-saat kritis tersebut.

Dalam sebuah organisasi, kebiasaan sebuah departemen yang hanya melihat tugasnya dalam lingkupnya sendiri akan menciptakan sebuah bencana.

Kisah yang diceritakan dengan detail dalam buku ini, adalah tentang kebakaran yang terjadi di stasiun bawah tanah King’s Cross pada bulan November 1987.

Dalam kejadian itu, tiap-tiap departemen mempunyai kebiasaan untuk bekerja pada bidangnya sendiri. Hal ini menyebabkan kebakaran yang awalnya bisa dicegah sejak dini, menjadi tidak terkendali.

Pada bab berikutnya, diceritakan bagaimana Target mampu mengelola data pelanggan yang berkorelasi dengan kebiasaan pelanggan tersebut.

Sehingga, pelanggan Target mendapatkan brosur atau kupon berdasarkan yang dibutuhkan oleh pelanggan.

Duhigg, menjelaskan pola lingkar kebiasaan: tanda – rutinitas – ganjaran.

O ya, sebelum lanjut, FYI kalau blog yang terkenal dengan tagline memahami secara sederhana bagaimana organisasi bergerak ini, pada Bulan September 2017 telah memasuki tahun kedua lho.

Sudah ada sekitar 37 artikel manajemen dalam berbagai kategori yang ringan dan bisa langsung disantap.

Anda bisa menemukan artikel-artikel tersebut dalam kategori review buku manajemen, kewirausahaan, SDM, tips presentasi, profil wirausaha, catatan penulis, manajemen diri, manajemen strategis dan dinamika tim.

Biar enggak ketinggalan update artikel, jangan lupa subscribe ya.

Mari kita lanjutkan.

Duhigg menyampaikan bagaimana memilih kebiasaan kunci yang benar akan memberikan perubahan yang menakjubkan, sedangkan memilih kebiasaan kunci yang salah akan menjadi bencana.

Guidelines merubah kebiasaan tersebut terdiri dari identifikasi rutinitas, mencoba dengan gamjaran, menemukan tanda dan menyusun rencana.

Bab per bab dalam buku ini disusun berdasarkan studi kasus. Penyampaian cerita detail untuk setiap kejadian. Tentunya di akhir cerita, disampaikan juga, bagaimana merubah kebiasaan akhirnya memberikan kesuksesan dalam setiap kejadian yang diceritakan.

Yah, paling tidak bagi Anda yang ingin membaca buku ini, harus fokus. Hal ini dikarenakan ada sinkronisasi antar bab.

Jangan contoh seperti saya, dalam satu hari, bisa membaca tiga jenis buku dengan topik yang berbeda. Walaupun satu buku belum selesai dibaca, saya sering mulai membaca buku yang lain.

🙂

Beberapa studi kasus yang diceritakan dalam buku ini adalah kejadian di Amerika Serikat. Namun, Duhigg mampu meramu kejadian per kejadian dengan detail, sehingga pembaca bisa larut di dalamnya.

Nah, di akhir buku, Duhigg membuat semacam guidelines sederhana bagaimana merubah sebuah kebiasaan.

Guidelines merubah kebiasaan tersebut terdiri dari identifikasi rutinitas, mencoba dengan gamjaran, menemukan tanda dan menyusun rencana.

Nah dalam contoh guidelines ini, sebuah cara Duhigg mengubah kebiasan mengemil atau makan biskuit pada jam 3 sore.

Tanda yang mengawali adalah mulainya rasa bosan, sehingga Duhigg mengambil rutinitas ke kantin untuk membeli biskuit. Setelahnya mendapatkan ganjaran, pikiran menjadi fresh.

Kebiasaan makan biskuit kemudian diubah Duhigg menjadi saling menyapa rekan kerja untuk mengurangi kebosanan, namun ganjarannya tetap, yaitu pikiran menjadi lebih segar sebelum kembali ke meja kerja.

Walaupun sederhana, guidelines tersebut yang memberikan contoh pada ranah pribadi bisa di-adjust untuk merubah kebiasaan pada level organisasi.

Tentunya bagi siapapun yang ingin merubah kebiasaannya menjadi lebih baik, buku The Power of Habit bisa dijadikan referensi.

Semoga saja Anda yang belum menjadi pembaca setia blog ini bisa mengubah kebiasaannya untuk selalu memantau blog ini setiap hari rabu.

🙂

Semoga bermanfaat.

~ on duty Krawo, 18-20.09.17 ~

8 thoughts on “Bagaimana Cara Mengubah Kebiasaan”

  1. Wah jangan sampai terlena dengan kenyaman, harus mempunyai habits harus terus belajar, bergerak dan terutaman berinovasi, thanks sharingnya mas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *