Sisi Lain Final Piala Dunia

final-3532163_1920

Usai sudah gegap gempita Piala Dunia 2018. Kita pun sudah tahu, Perancis menjadi jawara di ajang 4 tahunan tersebut.

Banyak kisah yang kemudian mewarnai pemberitaan laga final antara Perancis dengan Kroasia yang berakhir dengan skor 4:2. Dari kisah Didier Deschamps yang mengantar Perancis memenangkan trofi Piala Dunia tahun 1998 sebagai pemain dan tahun 2018 sebagai pelatih sampai kisah Kylian Mbappe pemain termuda di ajang tersebut yang mencetak gol setelah legenda Pele.

Kisah lainnya adalah saat pertandingan final berlangsung. Bagi Anda fans Perancis yang menyaksikan siaran langsung di televisi, dan pasti syok apa yang terjadi pada menit ke 69.

Ada apa di menit tersebut?

Awalnya Perancis sudah unggul 4:1 atas Kroasia. Semua fans sudah bersiap berpesta. Kroasia membutuhkan 3 gol bila ingin mendapatkan tambahan waktu. Atau bahkan 4 gol bila ingin memenangkan pertandingan. Sesuatu yang berat bagi Kroasia.

Tapi apa yang terjadi pada menit 69 ketika kiper Perancis, Hugo Lloris, melakukan blunder. Kesalahan tersebut dimanfaatkan oleh Mario Mandzukic dan merubah skor menjadi 4:2. Dengan adanya gol tersebut, masih memungkinkan Kroasia berjuang di waktu yang tersisa. Namun, hal itu tidak terjadi. Kita tahu bahwa Perancis tetap unggul sampai akhir pertandingan.

Selanjutnya, bagaimana kisah pertandingan final tersebut menjadi poin pembelajaran di blog manajemen kesayangan Anda ini.

Mari kita simak sama-sama.

Sebuah organisasi sedang berlari kencang untuk mendapatkan target perjualan. Pada Triwulan I mereka dengan mudah memanfaatkan peluang karena didukung dengan kekuatan yang mereka punya.

Kompetitor masih berkutat di titik kelemahannya sehingga tertinggal pada periode tersebut.

Memasuki Triwulan II, kompetitor mulai unjuk gigi. Beberapa titik penjualan mulai mereka kuasai, sedikit menggerus keuntungan organisasi. Namun organisasi ini tetap jaya. Pada Triwulan II pun mereka masih unggul.

Personil dalam organisasi merasa sudah maksimal dalam kerja kerasnya dan merasa lebih unggul. Wajar khan kalau mereka merayakan kemenangan kecil-kecilan. Namun organisasi ini melakukan celebrate too early.

Mereka lengah. Kompetitor mengevaluasi kelemahan mereka di semester pertama. Mereka melancarkan strategi baru yang lebih efektif. Hasilnya sudah diduga, Triwulan III menjadi milik kompetitor.

Masih tersisa satu Triwulan. Walaupun organisasi ini sedikit unggul dari kompetitor pada TW I dan TW II, namun kekalahan di TW III berakibat mereka bekerja lebih keras lagi di TW IV.

Apa poin pembelajarannya?

Para pemimpin bisnis harus tetap meyakinkan pasukannya bahwa pertempuran belum berakhir.

Para manajer harus mempersiapkan tim di bawahnya untuk mempunyai endurance sampai akhir tahun. Bayangkan bila lomba lari ketahanan 2 jam. Bagi peserta yang belum mengerti dengan aturan ini pasti akan berlari sekencang-kencangnya pada menit awal. Namun dia akan kelelahan padahal lomba belum berakhir.

Organisasi pun demikian, harus memperhatikan garis finish. Penggunaan sumber daya, dilakukan bukan hanya diporsir di awal tahun namun kehabisan di akhir tahun. Tentunya alokasi yang tepat sesuai perencanaan merupakan pilihan yang tepat.

Untuk menghindari rasa terkejut yang diakibatkan oleh manuver kompetitor, tentunya organisasi perlu mempunyai tim business intellegence. Tim ini yang akan memantau perkembangan dan pergerakan pasar seperti apa.

Penggunaan teknologi digital telah merubah perilaku pelanggan pada kecenderungan customized. Sehingga apabila perusahaan kurang peka terhadap hal ini maka kompetitor siap melibas dalam waktu singkat.

Baiknya, manajemen organisasi mempunyai sistem penilaian kinerja yang sifatnya tahunan. Walaupun ada penilaian di fase triwulan atau semester, hal itu sebagai bentuk dari kegiatan pengendalian dan evaluasi.

Sistem penilaian tahunan tentu sejalan dengan sasaran perusahaan yang mengukurnya para akhir tahun. Sehingga pencapaian yang diraih pada triwulanan tidak menjadi lengah pada pencapaian triwulan berikutnya. Semua personil dalam organisasi tetap semangat untuk mencapai garis finish.

Memang ada kalanya manajemen mempunyai kebijakan untuk memberikan reward untuk sebuah pencapaian milestone. Apakah Triwulanan, semesteran atau tahunan. Bila milestonenya adalah triwulan dan pencapaiannya tidak akan mempengaruhi hasil akhir setahun, pemberian reward atau selebrasi bisa dilakukan.

Namun, pemberian reward perlu ada pertimbangan tambahan bila milestone triwulanan berpengaruh terhadap hasil akhir tahun. Sehingga jangan sampai reward atau selebrasi atas pencapaian triwulan malah memberikan efek menurunkan pada posisi triwulan berikutnya.

hosting murah

Selanjutnua Piala Dunia 2022 nanti Anda menjagokan siapa?

Gambar : pixabay

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *