Ingin Mudah Melakukan Eksekusi Strategi? Kenali 3 Hambatannya

photo-1468236603768-6b7d3594736f

Eksekusi strategi tidak semudah proses perencanaan strategi. Ada hambatan yang siap menghadang.

Mengenali hambatan tersebut untuk kemudian diminimalisir bahkan dihilangkan, akan memudahkan organisasi untuk melakukan eksekusi strategi. Sehingga tujuan organisasi bisa tercapai

Mari kita awali dengan cerita berikut.

Seorang pemilik toko produk mainan anak-anak berkunjung ke cabang-cabang tokonya. Dia memiliki 3 cabang toko. Alangkah kagetnya dia melihat performa masing-masing cabang berbeda-beda yang hasilnya tidak sesuai dengan harapannya.

Sang pemilik telah mempunyai angan-angan bahwa semua produk mainannya harus berkualitas dan mempunyai harga pokok yang bersaing.

Setiap cabang diberi wewenang untuk memproduksi sendiri dan mengatur biaya sehingga kepala toko bisa mengelola dengan otonomi. Namun, tetap merujuk kepada harapan sang pemilik.

Apa yang sedang terjadi di setiap cabang tersebut merupakan hambatan dalam eksekusi strategi. Banyak referensi yang bisa dirujuk terkait hambatan eksekusi strategi ini. Blog ini akan membahas 3 saja.

#1 Harapan Tidak Diterjemahkan. Harapan dalam dunia bisnis bisa dikatakan sebuah sebuah visi. Visi ini hanya akan menjadi rangkaian kalimat yang tertata rapih saja bila level operasional tidak mengerti apa yang sebenarnya diharapkan.

Kepala toko melakukan produksi saja tanpa memperhatikan kualitas produk yang diinginkan oleh pemilik serta memproduksi sesuai biaya yang ada. Tujuannya hanya bagaimana ada penjualan setiao bulannya.

Pemilik toko perlu segera mengambil tindakan dengan melakukan terjemahan atas harapan yang diinginkannya. Produk berkualitas dan harga pokok rendah, jelaskan maksud keduanya.

Sang pemilik toko kemudian menterjemahkan kriteria produk berkualitas yang diharapkan olehnya berupa strategi yaitu meningkatkan jumlah pelanggan yang merasa puas dengan produknya, melakukan pembelian ulang untuk barang mainan lainnya dan melakukan rekomendasinya kepada orang lain. Dalam hal ini berarti kepala toko perlu mempunyai data base pelanggan dan melakukan survey kepada pembeli pada posisi after sales.

Untuk produk yang berharga pokok rendah, pemilik toko menterjemahkannya dengan kriteria harga pokok satuan yang telah ditentukan karena seluruh biaya produksi diasumsikan sama di semua cabang serta harga jual yang harus lebih rendah dari kompetitor.

#2 Implementasi Tidak Dikawal. Sebuah visi yang sudah ditetapkan untuk kemudian diterjemahkan masih akan terhambat implementasinya apabila tidak ada pengawalan.

Dari 3 cabang yang dimiliki, 2 cabang masih kesulitan melakukan eksekusi strategi dalam kaitannya dengan terjemahan harapan atau strategi sang pemilik. Sedangkan 1 cabang lainnya sanggup melakukannya dengan baik.

Sang pemilik kemudian perlu menguasai cabang toko mana yang harus mendapatkan pengawalan dan mana yang tidak. Ketika sudah mendapatkan cabang yang perlu pengawalan, maka sang pemilik bisa menugaskan seseorang untuk mengawal implementasi strategi yang telah ditetapkan.

Pengawalan dimaksud meliputi apakah cabang toko tersebut telah melakukan pencatatan atau belum, melakukan penjualan dengan harga jual yang bersaing dan sebagainya. Aktivitas ini akan memberikan gambaran kepada pemilik toko bahwa kepala toko bersama karyawan dibawahnya telah melaksanakan strategi dengan baik.

#3 Tidak Ada Evaluasi. Selanjutnya, setelah strategi bisa dilaksanakan dan dikawal implementasi, ternyata masih juga ada yang kurang pas. Tidak ada yang salah dengan hal ini, saatnya lakukan evaluasi. Evaluasi sebagai bagian dari continuous improvement.

1 cabang masih juga belum menunjukan performa yang baik, padahal harapan pemilik toko sudah diterjemahkan dengan baik dan sudah ada penambahan tenaga untuk mengawalnya. Saatnya evaluasi dilakukan.

Evaluasi dilakukan terhadap hal-hal yang tidak sesuai dan perlu dilakukan perbaikan. Dari hasil evaluasi terlihat bahwa harga jual yang lebih rendah dari kompetitor bukan jaminan barang akan laku di pasaran.

Kenapa? Karena dari survey yang dilakukan oleh cabang tersebut, kategori pembeli di wilayah kerjanya menunjukan bahwa harga berkaitan dengan berkualitas barang. Sehingga timbulah persepsi bahwa produk yang harganya lebih murah pasti tidak berkualitas. Hal ini menurunkan penurunan penjualan.

Evaluasi tersebut segera ditindaklanjuti, pemilik toko segera membuat kebijakan strategis untuk cabang tersebut, bahwa yang dimaksud harga bersaing adalah harga yang menurut pelanggan di wilayah kerjanya pantas untuk produk yang berkualitas. Hal ini perlu dilakukan sehingga implementasi peningkatan penjualan sesuai arahan pemilik toko dapat terlaksana.

Demikianlah 3 hambatan eksekusi strategi yang harus dikenali dan ditindaklanjuti agar eksekusi strategi yang telah ditetapkan berjalan dengan sukses.

Semoga bermanfaat.

hosting murah

5 thoughts on “Ingin Mudah Melakukan Eksekusi Strategi? Kenali 3 Hambatannya”

  1. Bila ketiga hambatan itu sudah dijalankan, namun kondisinya tidak sesuai dengan yang diharapkan, lalu langkah apalagi yang perlu dilakukan Mas?
    terima kasih

    1. Salam Kenal Mas Wagiyo,
      Ya. Walaupun tiga hal tersebut sudah dilakoni, pencapaian harapan, angan-angan atau visi sebuah organisasi bisa saja masih belum diraih.
      Untuk organisasi yang pengelolaan manajemen strategisnya sudah tersistem dengan baik, pencapaian kinerja realisasi umumnya direview dalam periode tertentu dibandingkan dengan targetnya.
      Review ini juga akan memperlihatkan apakah target, sebagai perwujudan bahasa operasional sebagai terjemahan visi, achievable atau merupakan sesuatu yang memang diluar batas kemampuan organisasi (hasil scanning environment-nya).
      Sehingga memang selalu ada perbaikan yang berkelanjutan sebagai bentuk learning organization.

Leave a Reply to Retnowidowati54 Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *