Kisah Hidup Seorang Penumpang

ribblehead-viaduct-2443085_640

Melakukan perjalanan darat dengan jarak tempuh 9 jam dan menggunakan angkutan publik, memang terasa membosankan.

Namun, hal itu tidak berlaku bagi blogger kesayangan anda ini. Yang membosankan bisa menjadi menyenangkan. Tergantung bagaimana mengemasnya.

Seperti peribahasa when life gives you lemons, make lemonade.

Nah, perjalanan seperti apa yang dialami sang blogger, yang mempunyai 40 artikel manajemen yang ringan dan siap disantap, baru-baru ini.

Ada pilihan lain bagi saya dalam memanfaatkan waktu di perjalanan, yaitu berselancar di jagad maya. Tapi saya memilih untuk menjelajah di dunia nyata.

Perjalanan nan panjang ini, dimanfaatkan oleh saya untuk bercakap-cakap dengan penumpang lain. Seorang ayah dan putranya.

Sang ayah ini menceritakan bagaimana dia memberikan bekal pengetahuan kepada anaknya agar dia siap saat dewasa nanti. Hal ini mengingatkan saya bagaimana Rhenald Kasali dalam tulisannya di Buku Self Driving memaparkan bagaimana pendidikan di bangku sekolah berpengaruh terhadap bagaimana sang anak menghadapi kehidupan kelak.

Lalu sang ayah ini bercerita juga bahwa sebelum berwirausaha seperti saat ini, dia juga merupakan karyawan perusahaan. Ada yang menarik dari ceritanya. Bahwa dia ini mempunyai kompetensi sebagai orang lapangan, namun perusahaan menugaskannya menjadi tenaga administrasi.

Hal ini membuat passionnya berkurang, dan performanya terus menurun. Dia pun kemudian mengajukan resign dan mengambil tantangan baru sebagai driver transportasi online.

Ketika berbicara tentang transportasi online tersebut, dia sangat antusias sekali. Penjelasannya bagaimana aktivitas online ini bisa dimanfaatkan dengan baik dan menambah penghasilannya.

Selain itu, dia pun bercerita bila istri tercintanya juga berwirausaha dengan berjualan kue. Sebelum berkembang seperti saat ini, di awal-awal usaha istrinya selalu mencari momen.

Kisah yang menarik adalah ketika, salah satu rekan kerjanya memesan kue ulang tahun untuk anaknya. Dan ini merupakan order keduanya dalam berusaha. Pasangan ini pun semangat siang malam untuk membuat kue ulang tahun dengan sebaik-baiknya.

Best practice didapat dari pengetahuan yang dikelola bersumber pada hasil benchmark, hasil pelatihan dan bahkan inovasi internal.

Namun, 2 hari sebelum hari ulang tahun, sang rekan memutuskan untuk membatalkan pesanannya. Sang istri pun lunglai mendengarnya.

Namun, sang suami tidak menyerah, tetap memutuskan untuk terus menyelesaikan kue ulang tahun tersebut. Saat hari H, diantarkannya kue tersebut. Sang rekan pun terkejut. Namun sang suami menyampaikan bahwa sang rekan tidak perlu membayarnya.

Sang suami hanya butuh momen untuk mendokumentasikan kue tersebut dan menjadikannya promosi. Akhirnya usahanya pun berkembang sampai dengan saat ini.

Cerita yang luar biasa. Perjalanan pun tidak terasa.

Lalu apakah kisah penumpang ini bisa dikaitkan dengan perilaku organisasi?

Tentu dong, blog yang membawa tagline memahami secara sederhana bagaimana organisasi bergerak, akan memberikan poin pembelajaran bagi pembaca semua.

#1 Knowledge Management
Seperti halnya cerita sang ayah, organisasi juga perlu mengelola pengetahuan. Pekerja yang baru masuk, segera diberikan pengetahuan bagaimana organisasi bergerak, budaya organisasi apa yang dianut, dan bahkan best practice.

Best practice didapat dari pengetahuan yang dikelola bersumber pada hasil benchmark, hasil pelatihan dan bahkan inovasi internal.

Ada buku yang bisa dijadikan referensi terkait hal ini, berjudul Knowledge Management dari penerbit. Saya sih berharap Kang Wawan blogger bukumanajemen bisa segera mereview buku ini :).

#2 Kompetensi
Rekan penumpang saya bercerita bahwa dirinya adalah orang lapangan bukan tenaga administrasi. Hal ini menunjukan bahwa yang bersangkutan telah mengetahui dimana letak kekuatan diri dalam berkontribusi kepada organisasi. Tentunya organisasi tempat dia bekerja, pasti telah memetakan kompetensi masing-masing karyawannya.

Masing-masing karyawan mempunyai pengetahuan, perilaku dan ketrampilannya yang dipetakan oleh perusahaan. Hasil pemetaan tersebut kemudian dimaksimalkan oleh organisasi, sehingga menghasilkan hasil yang terbaik.

Orang yang mempunyai kemampuan analisis yang tinggi tentu lebih tepat ditempatkan di kantor pusat. Karena gairah kerja dan kebutuhan organisasi bertemu, maka hasilnya mantap.

hosting murah

#3 Keluar dari Comfort Zone
Stoltz memberikan gambaran 3 tipe invidu, yaitu quitter, camper dan climber. Jangan sampai kita sebagai camper yang nyaman dengan posisi nyaman saat ini. Bila ingin sukses, jadilah seorang bertipeclimber.

Seperti yang disampaikan oleh Hadi Satyagraha, salah satu kekeliruan manajer adalah comfort zone.

#4 Digital Technology
Teknologi digital telah merubah pola hidup. Saat ini kita tinggal klik hanya untuk sekedar memesan sepatu bola. Tinggal klik untuk memilih wisata kuliner.

Bahkan, sang ayah ini telah memanfaatkan jaringan teknologi untuk membantu usaha istrinya. Dari order sampai delvery. Biaya produksi pun turun jauh.

Organisasi melaunching produk baru dan unggulan menunggu momen yang tepat sehingga serapan pasar menjadi maksimal.

Dalam organisasi besar, kita melihat bagaimana kemudahan yang ada setelah teknologi diterapkan. Dalam bisnis transportasi, tiket online memudahkan siapapun dan dimanapun bisa memesan tiket. Hal ini menambah pangsa pasar.

#5 Momen yang Tepat

Ingat cerita bagaimana kue ulang tahun buatan sang istri, rekan penumpang saya ini, mengambil momen yang tepat dalam mempromosikan produknya.

Organisasi melaunching produk baru dan unggulan menunggu momen yang tepat sehingga serapan pasar menjadi maksimal.

Menjual promo tiket saat liburan merupakan momen yang tepat (peak season). Sehingga bisa mendapatkan keuntungan.

Semoga bermanfaat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *