3 Hal Yang Mendukung Aksi Justice League

Justice-League-first-image
Image : www.cheatsheet.com

Tulisan dalam blog kali ini tentang ulasan film, khususnya film yang dibuat berdasarkan cerita komik. Di sini kita akan simak tentang Film Justice League yang trailernya sudah wara wiri di youtube walaupun akan tayang pada tahun 2017 nanti.

Tapi. Ada tapinya nih. Ulasan filmnya teuteup mengikuti pakem blog aksi2manajemen. Artinya bukan sekedar mengulas film, tapi ada aksi manajemen apa di balik penayangan film tersebut.

Mari kita mulai.

Sebelumnya mari kita berkenalan dengan anggota Justice League yang akan tampil di film layar lebar: Superman, Batman, Wonder Woman, The Flash, Aquaman, dan Cyborg. Ada yang kurang enggak neh? Banyak. Ada Green Lantern, Green Arrow, Martian Manhunter, Hawkman dsb. Kenapa tidak semua ya? Inilah yang menjadi salah satu bahasan kita terhadap film sekuel Dawn of Justice ini.

#1 Market Demand. Ketika movie goers menginginkan lebih dari satu karakter super hero tampil di layar lebar, maka Marvel pun menampilkan X-Men, Avengers, dan Guardian of Galaxy. Di saat yang sama, DC baru menampilkan tokoh individu seperti Green Lantern, Superman dan Batman.

Ketika sebuah entitas bisnis menghadapi lingkungan eksternal berupa peluang pasar yang ada serta mempunyai kekuatan internal yang besar, maka strategi growth akan menjadi pilihan.

Lingkungan eksternal seperti peluang market yang ada dan kekuatan internal dengan rentetan karakter yang bisa diekspose, mendorong DC Comic menciptakan DC Extended Universe (DCEU) yang didahului dengan film Dawn of Justice : Batman vs Superman. Mengikuti strategi growth yang ada, maka film-film tersebut pun diikuti oleh film Justice League dan spin off karakter DC lainnya.

#2 Offering Differently. Apa tawaran DC EU kepada konsumen bila dibandingkan dengan Marvel Cinematic Universe (MCU)? Lebih berotot dengan cerita lebih gelap serta menonjolkan sisi lemah superhero sebagai manusia.

Ya otot dalam arti sebenarnya. Bila dibandingkan dengan film Avengers, karakter-karakter DC dalam film Justice terkesan lebih berotot. Para pemeran seperti Superman, Batman, Aquaman pun dituntut menjadi berotot tanpa bantuan CGI.

Ingat dengan trilogi Dark Knight? Ceritanya terasa dark dan getir. Demikian juga dalam DCEU yang menampilkan sisi manusia dari kehidupan seorang superhero. Kesedihan dan kegetiran serta limit seorang super hero terlihat (ingat saja bagaimana hopeless-nya Batman saat menghadapi Doomsday). Alur cerita ini yang menjadi bahan jualan untuk movie goers sebagai main customers.

Uraian ini memang memperlihatkan bahwa DCEU menawarkan sesuatu yang berbeda dengan MCU.

#3 New Segmen. DC EU tidak menginginkan bersaing di red ocean. Dia memilih segmen pelanggam yang baru. Tidak seperti rivalnya yang menghubungkan antara film layar lebar dan film seri (seperti Avengers dan Agents of S.H.I.E.L.D), maka DC EU berdiri sendiri.

Tidak perlu nonton film seri The Flash, Arrow ataupun Supergirl umtuk tahu cerita layar lebar Justice League. Karena memang cerita dan pemeran tokohnya pun berbeda.

Ayo sekarang vote siapa yang sebenarnya yang sangat cocok memerakan tokoh The Flash : Grant Gustin (fim seri) atau Ezra Miller (layar lebar). Atau mungkin Barry Allen?

Segmen pelanggan baru memperlihatkan bahwa DC EU ingin menangkap semua konsumen yang ada untuk kemudian menjadi pelanggan setia. Targetnya adalah orang-orang yang tidak menonton film seri, yang nonton film seri, yang hanya hobi nonton film, yang hobi baca komik, yang hobi DC tapi juga hobi Marvel (seperti saya) dst. Segmen baru berarti menciptakan revenue stream yang baru juga.

Demikian ulasan film (oleh seorang penggemar film komik) berdasarkan aksi manajemen yang dilakukan oleh sebuah entitas bisnis.

Semoga bermanfaat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *