Sudahkah Merencanakan Hidup Sukses?

notes-514998_1920

Dulu, saya senang sekali bermain menyusun mainan balok-balok.

Sekali waktu saya membeli satu kotak kecil. Seperti biasa, di dalam kotak tersebut terdapat bungkusan baloknya yang disertai dengan cara menyusunnya atau user manual.

Tapi, sayang banget, untuk yang satu ini, kertas panduannya  tidak bisa dibuka. Kertasnya lengket. Ketika saya buka paksa, malah kertasnya sobek.

Tentu saja, dengan ketiadaan panduan tersebut, sulit sekali bagi saya untuk menyusun balok-balok tersebut.

Namun, ide kreatif saya pun muncul.

Karena kebetulan, bentuk mainan yang akan disusun sangat sederhana, maka saya pun menyusun plan B.

Rencananya seperti apa?

Saya menyusun berdasarkan informasi dari gambar yang ada di kotak itu saja. Alhamdulillah, berkat pengalaman menyusun balok-balok dan pengetahuan yang ada, saya pun bisa menyusunnya dengan baik walaupun terjadi beberapa kali bongkar pasang.

Untuk beberapa orang yang sudah mempunyai pengalaman dalam menyusun mainan balok-balok, ketiadaan buku panduan tidak menjadi masalah.

Namun, bagaimana dengan orang yang belum mempunyai pengalaman dalam menyusun mainan balok-balok?

Lalu bagaimana bila mainan tersebut adalah mainan dengan bentuk yang rumit, sehingga tidak bisa berpatokan pada pengalaman melihat melalui gambar pada kotak mainan?

Jawabannya menjadi topik artikel kali ini, rencanakan!

Tema perencanaan inilah yang mendasari saya untuk menyapa rekan pembaca blog semua tentang topik Perencanaan.

Mari kita mulai dengan kegiatan sehari-hari.

Setiap malam saya menyempatkan waktu untuk menulis rencana untuk esok hari.

Saya menuliskan apa-apa saja yang akan saya lakukan. Bahkan saya juga menuliskan rencana, mingguan bahkan tahunan.

Kegiatan ini sudah rutin saya lakukan sejak sekolah dan berlanjut sampai sekarang.

Saya menulisnya dalam notes, kalendar, aplikasi atau media lainnya.

Bahkan saat saya menimba ilmu di Negeri Kangguru, pihak Universitas memberikan semacam pelatihan bagaimana menyusun sebuah Daily Planner.

Dalam Daily Planner tersebut saya menuliskan due date tugas-tugas. Misalnya untuk individual assignment, group presentation, paper dan final test. Setelah saya menulis due date-nya masing-masing, maka saya menarik mundur kegiatan-kegiatan sebelumnya yang perlu saya lakukan.

Semisal untuk individual paper yang jatuh pada bulan keempat, saya menyusun kapan saja ke perpustakaan untuk mendapatkan referensi, kapan menyusun konsep, kapan konsultasi dan sebagainya.

Bila saya tidak konsisten menjalankan apa yang sudah dituliskan, maka saya pun tidak akan menyelesaikan tugas-tugas sekolah dengan baik.

Setelah sekian lama saya rutin membuat rencana ini, akhirnya menjadi kebiasaan.

Saya pun merasakan manfaatnya.

Setiap pagi, saya membaca plan of today yang dibuat malam sebelumnya. Sehingga saya tahu hal-hal apa saja yang harus saya lakukan hari ini.

hosting murah

Saya pun tidak perlu membutuhkan space dalam otak saya untuk mengingat rencana tersebut karena saya sudah menuangkannya dalam kertas atau notes saya.

Rencana tersebut mampu menunjukan saya pekerjaan-pekerjaan mana yang prioritas, yang rutinitas atau bahkan yang bisa saya tunda karena padatnya kegiatan.

Untuk yang harian, biasanya saya menuliskan aktivitas secara detail, kegiatan dari pagi sampai dengan malam. Untuk prioritas yang akan dicapai, saya memberi tanda bintang.

Bila Anda sudah mempunyai target dalam waktu 5 tahun ke depan? Rencanakan mulai hari ini. Dituangkan dalam rencana tahunan, bulanan, bahkan mingguan apa-apa saja yang menjadi targetnya.

Misalnya saya, dalam 5 tahun ke depan ingin menjadi penulis buku aksi-aksi manajemen profesional. Maka saya pun merencanakannnya. Untuk target harian, saya harus menyelesaikan 1 lembar draft tulisan. Target bulanannya, saya harus menyelesaikan membaca 2 buku manajemen. Lalu target tahunannya, saya menerbitkan 1 buku.

Demikian juga dengan Anda. Apa target di 5 tahun kemudian? Susun road map-nya mulai hari ini. Anda pun harus membuat sebuah rencana aksi.

O ya, untuk menulis artikel ini, saya merencanakannya juga dalam sebuah peta konsep. Hal-hal penting apa yang akan saya sampaikan dalam artikel ini.

Termasuk mengingatkan pembaca untuk yang satu ini.

🙂

O ya, sebelum lanjut, FYI kalau blog yang terkenal dengan tagline memahami secara sederhana bagaimana organisasi bergerak ini, pada Bulan September 2017 telah memasuki tahun kedua lho.

Sudah ada sekitar 40 artikel manajemen dalam berbagai kategori yang ringan dan bisa langsung disantap.

Anda bisa menemukan artikel-artikel tersebut dalam kategori review buku manajemen, kewirausahaan, SDM, tips presentasi, profil wirausaha, catatan penulis, manajemen diri, manajemen strategis dan dinamika tim.

Biar enggak ketinggalan update artikel, jangan lupa subscribe ya.

Dalam hubungannya dengan rencana harian, John C. Maxwell dalam bukunya Make Today Count, menuliskan bahwa jika hidup kita ingin efektif, maka kita harus harus mampu membuat perencanaan. Beliau sendiri menyusun rencana kerja harian secara detail.

Review buku tersebut dalam waktu dekat akan saya publish di blog.

Setelah membahas perencanaan dalam lingkup personal, mari kita bahas dalam konteks yang lebih luas, yaitu organisasi.

Kita mengenal Planning (perencanaan) sebagai satu dari empat fungsi manajemen yaitu Organizing, Actuating dan Controlling.

Dalam level manajemen strategis, perencanaan disusun untuk menentukan tujuan organisasi dan menetapkan langkah-langkah menuju ke sana.

Sedangkan dalam level manajemen operasional, perencanaan disusun untuk menetapkan langkah-langkah eksekusi operasional.

Setiap perencanaan ditentukan juga siapa yang akan bertanggung jawab, sehingga dapat dipastikan perencanaan disusun secara baik.

Pada prakteknya, banyak organisasi yang mengabaikan proses perencanaan ini. Ada yang berdalih, ah rencana mulu, langsung aksi saja. Hasil tetap sama.

Kembali ke pembahasan saya di awal, untuk beberapa kasus langsung beraksi adalah sesuatu yang harus diambil. Untuk pekerjaan rutin tentu tidak perlu membuat rencana.

Lain soal, ketika hal itu meliputi alokasi waktu, tenaga dan biaya. Langsung beraksi tanpa perencaanaan akan menimbulkan risiko seperti over budget atau over time.

Biar lebih jelas, mari kita lihat perumpamaan sederhana berikut ini.

Misalkan Anda akan berangkat dari satu kota kecil ke kota besar yang melalui bukit-bukit dengan perjalanan darat selama 10 jam. Anda yang sudah pengalaman bepergian (namun belum pernah ke jalur yang akan dilalui saat ini), tentu akan langsung berangkat tanpa perencanaan apapun.

Habis bahan bakar tinggal beli di pom bensin. Pecah ban, ganti ban baru. Minyak rem kurang, tinggal mampir ke bengkel. Lapar dan haus tinggal mampir ke rumah makan yang ada di sepanjang perjalanan.

Namun, di luar dugaan Anda. Ada bencana longsor. Jalur dialihkan ke jalan alternatif. Jalan alternatif yang berbatu menyebabkan ban mobil Anda pecah, ban serep pun kondisinya sudah tipis. Tukang tambal ban tidak ada di sepanjang jalan alternatif.

Jalan alternatif yang ditempuh menambah perjalanan sekitar 50 km. BBM mobil Anda pun menipis, karena Anda berencana mengisi di pom bensin yang ada di jalan. Namun, sepanjang sepanjang jalan alternatif, tidak satu pun bertemu dengan tempat pengisian bahan bakar bahkan tukang ecer sekalipun.

Walaupun Anda akhirnya sampai di kota tujuan, ada konsekuensi yang harus didapat. Biaya, tenaga dan waktu terkuras. Tentu dalam keadaan seperti ini Anda menyesali bahwa perencanaan tidak dibuat.

Bandingkan apabila Anda melakukan perencanaan sebelum berangkat. Setelah mendapat informasi jalan yang akan dilalui, pilihan Anda adalah tetap melanjutkan perjalanan atau menunggu perbaikan jalan dan normal kembali.

Bila Anda tetap melanjutkan perjalanan, Anda akan menyiapkan kendaraaan selalu dalam keadaan full tank sebelum memasuki jalan alternatif. Anda pun sudah membeli ban baru yang sesuai dengan kondisi jalan, karena ban lama Anda tidak sesuai lagi. Anda pun sudah mempersiapkan pembekalan.

Semuanya akan lancar dan baik-baik saja khan.

Nah, perumpaman sederhana tersebut kemudian Anda terapkan ketika Anda akan melaksanakan sebuah proyek.

Anda tentu akan merencanakan dengan sebaik-baiknya, termasuk risiko yang akan dihadapi.

Berbicara tentang risiko, sebuah organisasi juga harus mampu memetakan potensi risiko bisnisnya. Hasil pemetaan inilah yang kemudian menjadi dasar rencana mitigasi risiko.

Rencana tersebut akan menjabarkan langkah-langkah apa yang akan diambil apabila risiko yang sudah diidentifikasi benar-benar terjadi.

Bahkan dalam buku Chaotics, dimana era turbulensi bisnis yang tidak menentu ini, para pemimpin perusahaan diharapkan membuat perencanaan atau skenario keluar dari krisis. Karena dalam situasi krisis ada 3 masa depan yang akan dihadapi yaitu masa depan yang jelas, masa depan alternatif yang teridentifikasi dan yang tidak teridentifikasi.

Semuanya harus disiapkan dengan baik. Bila tidak, perusahaan akan digulung badai.

Kembali ke hubungan antara perencanaan dan implementasi di lapangan, beberapa penelitian menunjukan bahwa beberapa organsasi tidak mampu membuat perencaanaan yang bisa diimplementasikan.

Hal itu karena perencanaan yang dibuat tidak executable. Banyak hambatan dalam mengeksekusi sebuah strategi. Kaplan dan Norton saja memberikan jawabannya melalui buku Strategy Maps.

Dalam buku tersebut, dijelaskan bagaimana langkah menuju kinerja finansial harus dibuat peta yang akan menggambarkan jalan mana saja yang perlu ditempuh.

Intinya, bila Anda ingin hidup sukses maupun bisnis lancar, pastikan Anda telah membuat sebuah rencana. Rencana yang mudah diimplentasikan.

Artikel ini telah memberikan dukungan terhadap kutipan berikut : “Gagal merencanakan sama saja dengan merencanakan kegagalan”.

Selanjutnya, bagaimana dengan rencana Anda untuk subscribe dan download ebook gratisnya?
🙂

Semoga bermanfaat.

– PLG, LPG, BGR, 16.10.17
Gambar : pixabay

2 thoughts on “Sudahkah Merencanakan Hidup Sukses?”

    1. Tidak ada patokan waktunya. Ini semacam rencana cadangan. Lebih pasnya memang ada identifikasi risiko pada rencana utama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *