Perbaikan yang Memberikan Nilai Tambah

Perbaikan Nilai Tambah
Suatu hari saya bertemu dengan seseorang yang pernah sekantor dengan saya. Dia menjalankan usaha toko bangunan skala kecil dan pernah berkonsultasi tentang bisnisnya dengan saya ( berarti saya konsultan bisnis dong?:) ).

Dalam pertemuan itu, dia menceritakan bahwa pernah membaca sebuah artikel tentang ikan hiu kecil dan ikan salmon. Pasti diantara pembaca ada yang sudah mendengar atau membacanya. Kalau sudah, enggak apa-apa ya saya lanjutkan karena saya belum tahu kisahnya.

Sambil memperbaiki posisi duduknya, dia pun bercerita tentang ikan hiu kecil dan ikan salmon tersebut. Setelah selesai mendengar ceritanya, saya pun penasaran dengan cerita aslinya. Saya pun meng-googling dengan kata kunci “ikan salmon dan hiu kecil” dan mendapatkan artikel tersebut.

Ada sebuah hikmah yang mendalam dalam kisah tersebut. Sebelum pembaca melanjutkan membaca artikel ini, disarankan dulu untuk membaca artikel tersebut (tapi jangan lupa untuk balik lagi ke blog ini ya, hehehe).

Kami berdiskusi bukan hanya tentang hikmah dalam kisah tersebut. Tetapi kami berdiskusi dari sudut pandang lain, yaitu tentang apa yang nelayan tersebut lakukan. Biar terlihat berbobot (padahal kami berdua sudah berbobot), diskusi kami lanjutkan dengan hitung-hitungan yang kami coretkan di atas tisu basah. Ternyata kami baru menyadari bahwa sangat sulit menulis di tisu basah. Akhirnya kami menuliskannya di atas kertas amplas sehingga hasilnya hitung-hitungan kasar.

Mari kita lihat.

Kondisi A (dimana nelayan menjual ikan salmon dalam keadaan mati sampai di daratan): misalnya biaya operasional seperti BBM dsb Rp. 50,-/kg ikan, kemudian harga jual Rp. 75.-/kg ikan, maka dapat margin Rp. 25,-/kg ikan.

Kondisi B (dimana nelayan menjual ikan salmon dalam keadaan segar sampai di daratan): biaya operasional seperti BBM, penyusutan bikin kolam, penangkapan ikan hiu kecil dsb Rp. 75,-/kg ikan, kemudian harga jual Rp. 125,-/kg ikan, maka dapat margin Rp. 50,-/kg ikan.

Jika anda pengusaha mana yang kita pilih? Jelas, memilih kondisi B.

Namun, bagaimana bila kondisi B yang harga jualnya hanya Rp. 100,-/kg ikan, sehingga marginnya Rp. 25,-/kg ikan, margin yang sama dengan kondisi A?

Tidak usah khawatir. Perbaikan proses kerja yang memberikan nilai tambah pasti hasilnya lebih baik. Coba perhatikan, apabila dengan kondisi A hanya berhasil menjual 100 kg ikan (margin yang didapat Rp. 2.500) namun dengan kondisi B ternyata berhasil menjual 200 kg ikan (margin yang didapat Rp. 5.000), maka kondisi B tetap menjadi pilihan.

Dari hitung-hitungan kasar inilah kita melihat bahwa apapun langkah yang kita lakukan dalam menemukan peluang baru untuk perbaikan proses kerja pasti akan memberikan nilai tambah. Tidak usah ragu dengan sebuah perbaikan apabila hasilnya akan memberikan sesuatu yang lebih baik.

Dalam sebuah organisasi yang sudah mapan berjalan, suatu saat akan menghadapi perubahan ekternal yang mengharuskan adanya perbaikan internal. Perbaikan internal yang dilakukan setidaknya diawali dengan pemetaan proses kerja untuk melihat hal-hal mana saja yang memberikan nilai tambah dan mana yang tidak. Hasil perbaikan yang memberikan nilai tambah inilah yang akan menjadikan sebuah organisasi dalam menjalankan bisnisnya akan berkelanjutan.

Selamat melakukan perbaikan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *