Bukan Sekedar Permainan Pesan Berantai

sea-1377712_1920

 

 

Pernah mengikuti permainan pesan berantai?

Pasti dong.

Dulu pas sekolah kalau ada kegiatan eskul di luar kelas atau outbound, permainan ini selalu ada.

Aturan mainnya sederhana. Salah satu teman menerima pesan dari instruktur. Kemudian pesan itu disampaikan secara berbisik ke teman berikutnya.

Demikian seterusnya sampai pada teman kita yang terakhir. Dialah yang kemudian menyampaikan pesan yang diterimanya di depan yang lain.

Biasanya, suasana akan bertambah gaduh, ketika teman kita ini menyampaikan pesan yang diterimanya. Isi pesan melenceng jauh dari pesan pertama yang disampaikan.

Teman-temannya pun tertawa terpingkal-pingkal mendengar pesannya.

Disini kita melihat adanya miskomunikasi di penerima pesan yang terakhir.

Padahal kalau kita mau menelisik lebih jauh, penyimpangan bisa saja terjadi di pertengahan penerima pesan. Bahkan di penerima pesan pertama.

Dalam permainan tersebut, kita sudah menduga bakal terjadi miskomunikasi. Hal tersebut disebabkan oleh beberapa faktor.

Daya tangkap anak-anak yang mengikuti permainan pasti berbeda. Ada yang mudah mengingat, walaupun pesan yang diterimanya salah. Ada yang tertawa karena telinganya kegelian. Bahkan ada yang tidak peduli terhadap isi pesannya.

Permainan di masa kecil ini pun saya gunakan saat menjadi trainer internal dalam suatu pelatihan.

Permainan tersebut untuk menjelaskan materi tentang komunikasi dalam organisasi. Khususnya pada saat bagaimana penyampaian masalah di level operasional bisa sampai ke level pengambilan keputusan.

Peserta permainan dipersilahkan menunggu di luar kelas. Satu per satu peserta masuk ke dalam kelas untuk menerima pesan. Setelah mereka menyampaikan pesan ke temannya, mereka saya persilahkan duduk.

Kecuali untuk peserta yang pertama dan terakhir saya minta tetap di depan kelas. Ditambah dengan dua peserta lainnya yang berada di tengah-tengah rangkaian pesan tadi.

Selanjutnya, keempat peserta tersebut dimintakan untuk menuliskan pesan yang mereka terima dan membacanya secara bergiliran.

Mereka membelakangi layar yang menampilkan pesan aslinya.

Seperti halnya saat anak-anak memainkannya, peserta yang mendengar kawannya membaca pesan, juga terpingkal-pingkal. Antara pesan awal dengan akhir terjadi bias yang luar biasa.

Dalam permainan ini, dimana ada empat peserta yang menyampaikan pesan