Sebuah Catatan Perjalanan Darat

green-curry-1736806_1920

Gambar : Pixabay.com

“Makan dimana kita?” tanyaku

Saat itu perjalanan kami mulai memasuki kota persinggahan dan bertepatan dengan jam makan siang.

“Sebentar lagi, ada warung makan soto ayam yang rasanya mantap.
Ada putaran di depan, putar balik.”

Jawaban temanku yang menekan kalimat “mantap rasanya”, malah membuat perutku makin lapar.

Setelah mendapatkan tempat parkir, ya, karena ramai sekali saat itu, saya pun bergegas menyusul temanku tadi yang kelihatan familiar dengan tempat ini.

Tempat makan ini memang berupa warung, bukan ruko. Tempat meracik sotonya berada di depan, langsung terlihat dan tercium aromanya saat kita datang. Tempat makannya sempit sekali, hanya cukup untuk 5 orang. Mereka pun membuka lapak yang posisinya berada di luar warung.

“Soto ayam pakai nasi,” aku menyergap seorang pelayan saat membersihkan meja, “minumnya es teh manis.”

“Kamu kayak iklan snack aja, kamu bukan dirimu saat lapar,” canda temenku.

Aku selalu kagum dengan usaha warung makan seperti ini. Tanpa promosi jor joran, pelanggan rela datang dan antri untuk memesan makanan. Temenku pun langsung mengetahui pikiranku. Karena dia tahu, sejak lama aku ingin membuka usaha rumah makan.

“Kamu ingat khan, waktu dosen kita memberikan referensi tentang model bisnis karya Osterwalader dan Pigneur itu? ” tanya temenku. Dia ini punya blog manajemen dan senang sekali bila bicara tentang bedah usaha.

“Ya, kita akan bicara tentang value proposition khan?” Jawabku sekenanya karena mulai sedikit sensitif ketika pelanggan disebelah kami sudah mendapatkan pesanan soto ayamnya.

“Tepat. Kira-kira nilai-nilai apa saja yang diberikan warung ini kepada kita sebagai pembeli.”

“Yang pasti, pelayanannya lambat. Sudah lama nunggu, masih belum datang juga.”

“Hehehe. Belum sampai 5 menit lah. Tapi itu bisa catatan juga. Artinya mereka harus memperbaiki manajemen operasinya.”

“Dari sisi tempat juga biasa saja. Parkirnya terbatas. Tempatnya sempit. Tapi pembelinya sangat ramai. Bahkan kamu pun mengajakku kesini,” hatiku mulai sedikit senang karena minuman sudah datang, “kalau dalam four action framework, kekurangan yang aku sebutkan tadi masuk ke dalam hal-hal yang perlu ditingkatkan.”

“Betul sekali,” temanku mulai melihat perubahan diriku, “nah, itu dia pesenannya. Pasti pikiranmu tambah fresh setelah menikmati sotonya.”

Akhirnya yang ditunggu datang juga. Semangkok penuh, berisi suir ayam yang banyak, ada pernak perniknya seperti bihun, toge, kol, telur dan goreng bawang. Hmmm. Menggugah selera betul. Aku pun menambahkan perasan jeruk nipis, kecap dan sambal.

“Hehehe, lahap sekali makannya. Jangan lupa berdoa,” ujarnya yang melihatku seperti lupa segalanya.

Aku pun mengucapkan terima kasih kepada temenku karena mengingatkanku.

Benar kata temanku tadi. Rasanya mantap sekali. Bahkan kudengar pembeli di sebelah tempat dudukku pun memuji rasa mantap soto ini. Tanpa membutuhkan waktu lama, hidangan pun ludes terlahap.

“Alhamdulillah. Nikmat sekali. Sampai mana tadi?” Aku mulai bersemangat kembali untuk berdiskusi, “o ya, warung ini bukan hanya meningkatkan beberapa hal, tapi harus menciptakan. Bagaimana biar pembeli nyaman di tempat duduknya dan pembagian tugas yang tepat untuk para pelayannya, sehingga mereka tidak terlihat kerepotan.”

“Lanjut.”

“Nah, untuk rasa harus dipertahankan. Karena ini mendapatkan nilai tertinggi dalam nilai yang ditawarkan kepada pembeli. Bila rasa makanan berubah, hal lain yang diciptakan dan ditingkatkan tidak akan berguna, karena ini bisnis rumah makan.”

hosting murah

“Hahaha, memang harus dikasih makanan yang mantap dulu, biar pikirannya lancar. Tapi bagaimana dengan harga?”

Aku semangat menjawab pertanyaan temenku. Sekarang dia membalik keadaan. Memberiku berbagai pertanyaan. Es teh manis pun tidak lupa kusruput.

“Bila rasa mantap seperti ini, pembeli rela membayar sedikit lebih mahal untuk semangkok soto ayam.”

“Bahkan, aku pun rela mentraktirmu.”

“Nah, yang itu aku engak komen. Cuman bisa ngomong enggak usah ngerepotin. Hahaha.”

Setelah melakukan pembayaran, aku pun kaget, karena harga semangkok soto ayam tidak jauh berbeda dengan warung makan sejenis.

Sambil kami berjalan ke parkiran, aku pun melanjutkan pembicaraan, “Menurutmu bagaimana dengan ideku ini. Warung tersebut menaikan harga yang pembeli pun tidak akan komplain, lalu mereka memperbaiki fasilitas untuk kenyamanan pelanggan”.

“Ok juga. Sebenarnya pemilik usaha sudah tahu mana para pelanggan setianya. Dia pun bisa obrol-obrol dengan mereka untuk mendapatkan apa sih yang pelanggan inginkan. Ya, sekedar survey kecil-kecilan. Dibandingkan, apabila pemilik usaha memberikan fasilitas macam-macam berdasarkan perasaannya yang ternyata pelanggan tidak memerlukannya.”

Kami pun melanjutkan perjalanan. Ada yang menarik dari semua itu, yaitu ini kali kedua saya mendapatkan tempat makan di kota tersebut hasil rekomendasi dari orang lain. Menambah list wisata kuliner yang kupunya.

“Dengan keadaan seperti ini, mereka tentu tidak perlu promosi besar-besaran khan?” Tanyaku.

“Ya, untuk usaha seperti ini memang yang kuat adalah WoM alias word of mouth. Karena mereka hanya melakukan promosi berupa pemasangan papan usaha saja.”

“Tapi ada satu hal yang paling penting yang bisa dikombinasikan dengan WoM tadi …,” tanggapanku tanpa mencoba meneruskan kalimat.

“Apa tuh?”

“Sambil diajak kesana, ya ditraktir juga”

Hahaha.

Rasa lapar dan capek sudah terbayarkan.
Perjalanan darat masih berlanjut.

Selanjutnya, karena saya measa puas menyantap makanan disitu, tentu saya pun berkeinginan mengajak anak dan istri kesana bila berkunjung ke kota tersebut.

Bila rasa dan values lainnya cocok, tentu istriku juga tentu akan mengajak teman-teman yang lain menikmati soto ayam di warung tersebut. Demikian seterusnya, semakin banyak orang yang tahu.

Selamat menikmati pedasnya soto ayam dan dinginnya es teh manis.
(Tulisan ini dibuat saat melakukan perjalanan darat selama 8 jam)

1 thought on “Sebuah Catatan Perjalanan Darat”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *